Karena Muallimin Selalu Ada di Sepanjang Hidupku

DUDUK sendirian aku di pojokan taman mungil apartemen di Ourcq, pinggiran Paris. Hanya secangkir kopi yang kuambil dari lobi apartemen yang menemani kesendirianku malam itu. Waktu menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat dan udara dingin sehabis hujan tak sedikitpun mengganggu.

Sesekali kubuka ponsel pintar di genggaman tangan kiri, membuka media sosial dan melihat sekilas status teman, kerabat, dan keluarga di tanah air yang menulis tentang mudik, malam takbiran, dan Idul Fitri. Malam itu sama sekali tak terdengar bunyi takbir di telingaku. Kesepian yang mengingatkanku akan kehidupan pada awal-awal menjadi santri di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dua dekade silam.

Ingatan itu lah yang membuat aku sedikit malu hati. Seharusnya jauh dari keluarga bukan lagi masalah bagi seseorang yang telah merantau sejak usia 13 tahun. Memori itulah yang membuatku lebih rileks. Kuhirup lagi kopi dari cangkir mungil itu sambil berkata dalam hati, ”Beruntunglah mereka yang merantau sejak belia.”

Seumur hidup, aku telah bepergian mengitari separo bumi. Tentu saja, bukan hanya pengalaman menyenangkan yang didapat, terkadang menyulitkan dan nyaris bikin putus asa. Tapi, ingatan akan seorang remaja kurus yang berani merantau jauh dari orang tua sejak belia telah memberikanku tenaga ekstra.

Pernah suatu waktu, pada musim panas 2014 ketika ditugaskan meliput Piala Dunia di Brasil, berkali-kali aku berada pada momen yang membuat bulu kuduk berdiri dan jantung berdegup kencang.

Suatu ketika, karena harus meliput latihan timnas Kosta Rika di Santos, yang berjarak dua jam perjalanan dari Sao Paulo, aku telat kembali ke penginapan. Saat itu, aku menginap di rumah seorang kenalan yang tinggal di Diadema, pinggiran Sao Paulo. Kalau mungkin kalian masih asing dengan Diadema, akan kukisahkan secara singkat.

Satu dekade lalu, Diadema dikenal sebagai kota yang kriminalitasnya setara atau bahkan melebihi Bogota, Kolombia. Bahkan, polisi pun takut masuk ke area tersebut tanpa kekuatan persenjataan penuh. Gembong obat bius dan narkoba di Sao Paulo pernah berpusat di sana. Bahkan, pekan pertamaku di Diadema, beberapa kali terdengar suara tembakan ke udara pada tengah malam. ”Itu biasanya penanda ada barang terlarang yang dikirim masuk ke sini. Seperti mengetuk pintu,” kata Fernando Doren, seorang pastor asal Flores yang belasan tahun tinggal di Diadema.

Entah sial bertubi-tubi apa yang membuatku malam itu belum tiba di penginapan sebelum tengah malam. Mulai dari ketinggalan bus di terminal Santos menuju Sao Paulo, hingga lupa membawa uang yang lebih untuk naik taksi kalau dalam kondisi terdesak. Satu jam sebelum tengah malam, aku baru tiba di Jabaquara, stasiun metro terakhir dan terdekat dengan Diadema.

Dari Jabaquara, hanya sekitar belasan kilometer menuju Diadema dengan bus umum. Dan, malam ini hujan deras turun, jarang sekali ada penumpang yang menunggu bus di halte Jabaquara. Uang di kantong tidak cukup untuk naik taksi, tapi sudah 15 menit menanti belum juga ada bus jurusan Diadema yang lewat.

Ponsel pintar di saku ku sudah satu jam mati karena tidak sempat mengisi baterai. Lengkap sudah masalahku malam ini. Tak terasa, jarum jam di Stasiun Jabaquara yang hanya 50 meter dari halte menunjukkan pergantian hari tinggal beberapa menit lagi dan bus yang kunanti belum juga tampak batang hidungnya.

Tenang rasanya hati ini karena hanya 100 meter dari halte ada pos polisi, sehingga kalau ada apa-apa masih sempat untuk berlari atau berteriak. Tetap saja itu belum menghilangkan kegusaran karena bus yang dinanti belum juga tiba hingga malam telah berganti hari.

Satu jam telah berlalu, bertambah lagi setengah jam, bertambah lagi sepuluh menit, dan bus belum juga tiba. Kebetulan ada dua orang lain yang menanti bus itu. Dengan sepatah dua patah kata dalam bahasa Portugis yang kuketahui, aku berusaha mengajak mereka berbicara. ”Eu não entendo (saya tidak mengerti),” jawab pria berjaket coklat. Mungkin karena logatku yang aneh dilengkapi dengan bahasa Portugisku yang buruk, sehingga jawaban itu yang keluar dari mulut mereka.

Dalam situasi seperti itu, aku malah teringat akan Mahkamah Bahasa di Muallimin. Dulu, menjengkelkan sekali rasanya dipaksa memakai Bahasa Arab atau Inggris untuk keseharian. Benar, bahasa Arab penting bagi kami waktu itu karena untuk mempelajari kitab, tapi untuk bahasa Inggris, terkadang dalam hati berkata,”Aih, kapan juga bakal ke Inggris.” Meski ternyata, hidup kemudian membawaku ke London yang menggunakan bahasa Inggris dan Dubai yang memakai bahasa Arab.

Kembali ke kisahku di halte menanti bus yang tak juga datang. Ternyata, baru pukul 01.00 dini hari bus kembali beroperasi hari itu. Padahal, biasanya 24 jam. Ternyata, hari itu libur nasional. Naik ke bus sedikit memberikan kelegaan. Bus berjalan, baru kemudian teringat kalau dari halte di Diadema ke penginapanku masih perlu berjalan kaki hampir 1 kilometer.

Berjalan kaki di Diadema yang tingkat kriminalitasnya begitu tinggi, itu berdebarnya sama seperti berjalan di lorong asrama satu Muallimin pada tengah malam pada era 1990-an saat semua sudah tertidur, lampu-lampu dimatikan, dan tepat musim liburan. Mendebarkan. Lebih mendebarkan lagi ketika berjalan rasanya ada orang yang juga berjalan sekitar beberapa langkah di belakang. Semakin langkah kaki dipercepat, yang di belakang sepertinya bertambah cepat pula.

Apapun yang terjadi, begitu bus tiba di halte Diadema, maka tantangan itu terbuka di depan mata. Jalanan tampak gelap dengan hanya sedikit cahaya redup dari lampu-lampu di pinggir jalan. Ada beberapa pemuda duduk-duduk di pojokan jalan entah bercengkerama apa. Pikiranku terbang ke mana-mana. Baru sebulan lalu, temanku yang juga bertugas liputan di Sao Paulo dipukuli dan dirampas ponsel pintarnya di pinggir jalan. Ketika dia melapor ke kantor polisi, jawabannya justru mengkhawatirkan. ”Untung, kamu tidak melawan. Kalau melawan biasanya mereka mengeluarkan pistol,” kata polisi yang bertugas kepada temanku itu.

Jadi, dini hari itu, aku melangkah pasrah. Hanya berdoa. Berusaha tidak berekspresi apapun ketika berpapasan dengan orang yang mencurigakan. Dan, ketika tiba di penginapan, aku baru ingat, ini malam ke-17 bulan ramadan. Masih ada banyak situasi seperti itu yang kualami di sudut kota Paris, Rio de Janeiro, Roma, ataupun Kiev.

Dalam momen-momen sulit, apalagi di tengah malam dan sendirian, seringkali terngiang di kepala akan perjalanan malam yang biasa dilakukan berkelompok ketika di Muallimin. Biasanya, dipandu oleh beberapa ustad atau kakak kelas yang dipercaya. Saat masih kelas satu atau dua di Muallimin, berjalan tengah malam di kota yang masih asing, meski berkelompok tetap ada rasa khawatir sekaligus bersemangat. Dalam pengalamanku saat dewasa, aku sering melakukannya sendirian. Di kota dan negara asing yang kadang bahasanya tidak kumengerti.

Oh iya, mungkin kalian yang membaca cerita ini bertanya-tanya, apa yang membawaku bepergian melebihi separo bumi. Alasannya cuma satu, karena aku menulis. Aku seorang jurnalis di Jawa Pos, koran yang berbasis di Surabaya. Aku pernah meliput semua event akbar sepak bola internasional, mulai dari Liga Champions, Piala Eropa, hingga Piala Dunia. Pernah berfoto bareng dan mewawancarai pesepak bola kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Manuel Neuer, dan masih banyak lagi untuk ditulis satu-persatu.

Dan, terima kasih, karena pengalaman menulisku yang pertama terjadi saat duduk di kelas dua Muallimin. Kala itu, hanya cerita humor pendek atau puisi yang kukirim ke majalah Kuntum yang kebetulan kantornya di Wirobrajan. Kalau saja ketika itu aku tidak menulisnya atau kemudian tidak dimuat Kuntum, mungkin aku akan berpikir, apa lagi bakat yang kupunya.

Bukan hanya pengalaman hidup, kemandirian, dan ilmu saja yang kudapat setelah bersekolah di Muallimin. Lebih dari itu, aku mendapatkan banyak saudara. Tentu saja sangat memudahkan ketika memiliki teman alumni Muallimin di kota atau negara baru yang kita datangi.

Pengalaman pertamaku ke Eropa, tepatnya ke London, untuk meliput final Liga Champions 2011 antara Barcelona melawan Manchester United tidak akan berjalan dengan baik kalau saja tidak bertemu dengan Amika Wardhana. Dia teman sekamar ketika kelas satu dan dua di Muallimin.

Ketika itu Micko, begitu dia disapa, sedang menjalani pendidikan doktor di Essex University. Dia yang memandu cara naik metro atau kereta bawah tanah di London. Membantu saat mencari bahan liputan ke markas Chelsea, Stamford Bridge, atau ke markas Arsenal, Emirates Stadium. Juga, memotret gambar yang bagus ketika aku berfoto bareng Gianfranco Zola dan Giovanni van Bronckhorst.

Masih banyak teman lain yang tinggal atau bersekolah di berbagai belahan bumi. Sehingga, ketika singgah di sebuah kota di negara baru yang kudatangi, hal pertama yang kulakukan adalah bertanya kepada teman-teman sesama jebolan Muallimin, adakah teman yang kebetulan tinggal di sana.

Terakhir, yang perlu kalian ketahui tentang aku, apalagi kalau kalian masih santri di Muallimin. Bahwa aku bukanlah santri yang pandai atau alim ketika bersekolah di Jalan Letjen S. Parman 68. Nyaris setiap akhir tahun ajaran saat akan kenaikan kelas, aku selalu berdebar-debar naik kelas atau tidak. Maklum, ranking di raporku selalu 10 besar, dari belakang. Jadi, kalau saat ini ranking kalian lebih baik dariku saat di Muallimin dulu, maka yakinkan pencapaianku saat ini hanyalah angin lalu dibanding sukses kalian di masa depan nanti. (*)

Persembahan untuk setiap kenangan dan pelajaran yang diberikan almamater tercinta.

Writer : Muhammad Ilham Jurnalis Jawa Pos , Alumni Mu’allimin.

Leave a comment