Geliat dai muda Mu’allimin di Negeri Jiran. Eksis di kandang sendiri, jadi idola di negeri orang

(KEDAH), Memasuki tahun keempatnya program Mubaligh Hijrah Internasional, kali ini Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta menempatkan sebagian kader-kader mudanya di negara tetangganya, yakni Negeri Jiran, Malaysia (istilah negeri jiran, sesuai dg artinya negeri tetangga karena letaknya yang berdampingan bertetangaan dengan pulau ‘Borneo’ Kalimantan).

Tulisan eksklusif Ustadz Anang Fathurrahman mengindikasikan kekagumannya yang menyatakan bahwa agaknya negeri ini terlampau makmur untuk dibandingkan dengan tanah air kita Indonesia. Potensi SDA dan SDM negara itu mampu membuat silau negara-negara besar di dunia.

Negeri ini mempunyai luas 131.598 kilometer persegi dengan 11 negara bagian (propinsi) yaitu : (Kelantan, Terengganu, Pahang, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Perak,  Kedah, Pulau Pinang dan Perlis). Secara geopolitik, negara ini juga memiliki wilayah persekutuan (ibu kota) di Kuala Lumpur dan Putra Jaya sebagai pusat pemerintahan, yang jaraknya hanya satu jam perjalanan darat (setara dengan perjalanan antara Galur – Mu’allimin).

“Ini titik terakhir perjalanan kami mengunjugi para dai muda peserta Mubaligh Hijrah dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Dari satu titik ke titik lainya kami jumpai pemandangan yang indah, masyarakat yang ramah menyambut kehadiran kami sebagai orang asing di negeri sebrang. Bahkan dengan tulus mereka mengantar kami ke tujuan yang tidak dekat. Identitas kami selain paspor adalah kopyah dan baju muslim sebagai tanda bahwa kami ini muslim,” papar Ustadz Anang.

Bangunan

Secara umum, bangunan gedung-gedung dan rumah warga sangatlah megah dan indah. Pemerintah Malaysia memiliki keseriusan dalam mensejahterakan dan memperhatikan nasib warganya. Bahkan bagi penduduk yang belum berpenghasilan, mereka mendapatkan bantuan rumah lengkap dengan pekerjaan yang disiapkan oleh pemerintah otoritas setempat. Putra putri yang belajar ke negara lain pun tetap mendapatkan perhatian moral dan moril dari pemerintah.

Di Malaysia masa tunggu untuk antrian haji sangatlah panjang berlipat dari masa tunggu di negara kita. Namun bedanya selama masa tunggu tersebut bila ada keuntungan dari tabungan haji tersebut, maka akan dikembalikan kepada calhaj Malaysia agar bisa bermanfaat untuk membangun bidang usaha. Di Indonesia peruntukannya bisa lebih bernilai “maslahat”, digunakan untuk membangun infrastruktur, misalnya. Hehe…..

Etnis dan suku bangsa

Etnis yg mendiami negara ini sangat beragam, terdiri bermacam etnis, tiga terbesarnya berasal dari Melayu, India dan Cina. Dan mereka sudah menjadi satu kesatuan bangsa Malaysia.

Mayoritasnya tetap Melayu karena raja dan putra mahkota haruslah dari warga Melayu muslim. Namun tidak sedikit juga dijumpai orang-orang Eropa, Afrika, juga Asia Barat seperti Arab Saudi, Syiria dan Yaman yang berada di negara ini untuk menjadi dosen maupun mahasiswa di kampus-kampus internasional seperti IIUM dan USM.

Pemandangan di berbagai tempat, membuat kita semakin yakin dan sadar bahwa Alloh Subhanahu Wata’ala telah menciptakan manusia dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah agar saling mengenal budaya dan saling memahami bukan untuk saling berbangga dengan etnik apalagi fanatisme buta.

Lebih daripada itu tujuan utamanya adalah agar kita semakin mengenal Alloh dengan maha kuasaNya yang telah mencipta manusia dengan perbedaan suku budaya dan bahasa.

 

Lokasi MH

Tempat Mubaligh Hijrah yang  dikunjungi para pendamping sangatlah beragam sekaligus tempatnya berjauhan sehingga setidaknya tim harus menginap barang semalam di tiap lokasi mengingat jauhnya perjalanan yg biasa  ditempuh dengan bis, kereta maupun kapal ferry.

Di antara mereka, ada yang ditempatkan di daerah yang sangat modern penuh dengan fasilitas mewah,  pun ada pula yang ditempatkan di pegunungan,  pedesaan yang sangat jauh dari perkotaan.

“Yang membuat kami kesulitan adalah ketika akan cari tumpangan grabb karena nama kawasannya tidak terdeteksi oleh map grabb,” kenang Anang.

Mereka yang berada diperkotaan mendapatkan kesempatan emas berjumpa dengan para aktivis sosial dan keagamaan bahkan dikenalkan dan diundang langsung di kantor wakil gubernur Pulau Pinang untuk dikenalkan dengan wilayah itu. Mereka juga diberi kesempatan untuk memaparkan program MH Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Bagi mereka yang berada di ladang-ladang pedesaan pun tak kalah menariknya perjuangan mereka, mereka diminta untuk menempati satu rumah sendiri dg konsekuensi harus menyiapkan sahur dan berbuka sendiri. Beruntungnya mereka ini telah dibekali dg ilmu kemandirian HW dan keberanian TS sehingga tak sedikitpun mereka mengeluh dengan keadaan. Mereka tampak percaya diri dan berani tampil di depan dan sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. ( “sikik-sikik cakap merekapun dengan bahasa melayu pak cik”) 😊

Bagaimana mereka tidak menjadi pusat idola dan kesayangan warga desa?

Sebab di zaman ketika kebanyakan para pemudanya sibuk dengan urusan dunia bahkan lebih parah lagi tak mau tahu dengan urusan masa depan mereka karena telah terbiasa hidup enak dan manja. Yang ada hanya game dan happy.

Kini mereka melihat sosok imam surau muda yang setiap 5 waktu mengingatkan mereka akan akhirat dg panggilan azan dan menjadi imam bagi mereka.  Mereka mengakui bahwa mereka tidak punya imam sholat setelah imam mereka wafat.

Urusan imam bukan hal sepele di Malaysia karena imam begitu dimuliakan oleh kerajaan,  mereka mendapatkan gaji besar, tempat parkirpun khusus dan eklusif. Tapi itu untuk masjid masjid jami yang besar. Untuk surau lebih sering tak punya imam tetapnya sehingga kehadiran muballigh mubaligh muda dari Mu’allimin ini sangatlah berarti dan dinanti oleh warga.

Hampir semua tuan rumah yang dikunjungi selalu berpesan agar tahun depan jumlahnya ditambah lagi karena mereka siap memfasilitasi dg jumlah yang lebih banyak lagi.

Buka Puasa

Berbuka puasa di negeri ini mempunyai nuansa khas tersendiri memadukan khas timur dibalut dengan budaya Melayu. Kurma-kurma spesial terbaik semacam palm fruit selalu terhidang di tiap-tiap hidangan buka puasa di masjid, berikut dengan teh tarik minuman khas negeri jiran dan juga nasi biryani ala India. Masyarakat di sini suka sekali dengan lauk ayam daging, mungkin karena murah dan mudah diolah dengan berbagai macam racikan bumbu masakan khas Melayu sehingga tidak membuat bosan lidah.

Perhatian kepada negeri Islam

Perhatian warga Malaysia pada perkembangan perpolitikan di Indonesiab juga besar.  Mereka bertanya tentang orang-orang yang ditangkap KPK bahkan dukungan tulus mereka kepada keadilan dan kejujuran yang sedang diperjuangkan oleh masyarakat Indonesia. Mereka pun ikut berdoa semoga kejujuran dan keadilan tetap tegak berdiri menuju Indonesia yang lebih baik.

Dituturkan kembali dari cuitan Ustadz Anang di Kedah, Malaysia.

(Humas)

Leave a comment