Guru & Santri Mu’allimin Yang Pernah Menjadi Kakanwil Kemenag DIY

Prof. K.H. Farid Maruf (1951-1965)

Farid Maruf dilahirkan dari pasangan H.M. Maruf dan Hj. St. Djuwariyah di Yogyakarta, pada tanggal 25 Maret 1908, tepatnya di kampung Kauman. Di kampung yang memiliki atmosfer keislaman sangat kental inilah Farid melewatkan masa kecilnya. Orang tua Farid, H.M.Maruf menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang wajib diberi pendidikan agama sebaik-baiknya. Oleh karenanya, Farid dikirim ke Pondok Termas untuk memperdalam agama Islam selama dua tahun, kemudian dilanjutkan ke Al-Irsjad Pekalongan dan Jakarta. Pada tahun 1925, dengan berbekal tekad, semangat serta doa orang tua, Farid bersama Abdul Kahar Muzakkir dan teman-teman lain dari Yogyakarta melanjutkan pendidikan ke Mesir. Di sana, Farid menempuh pendidikan di Darul Ulum selama 3 tahun kemudian dilanjutkan ke Al-Azhar Kairo selama 4 tahun.

Selama di Mesir, Farid tidak hanya memperdalam Agama Islam dan Bahasa Arab saja, tetapi juga mempertajam bakat jurnalistik yang dimilikinya dengan menulis karya-karyanya ke dalam majalah maupun surat kabar. Karya-karyanya antara lain dimuat dalam Majalah Al-Balagh dan Seruan Al-Azhar yang terbit di Mesir. Dari kepiawaiannya dalam menulis, Farid memperoleh honorarium yang dipergunakan untuk membiayai studinya.

Dia juga menjadi wartawan di Al-Balagh dan pembantu tetap di Seruan Al-Azhar. Farid yang menguasai beberapa bahasa asing ini yaitu Arab, Perancis, Inggris, dan Belanda, tidak hanya mengirim tulisannya ke harian dan majalah di Mesir, tetapi juga ke media Solo, Indonesia, yaitu di Harian Adil dan Suluh Rakyat Indonesia. Tahun 1946, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, Presiden Soekarno meminta Farid untuk bekerja di staf Kementerian Pertahanan bagian politik (PEPOLIT) dengan pangkat Jenderal Mayor. Farid terpaksa meninggalkan Muallimin yang telah 13 tahun menjadi tempatnya mengabdikan diri untuk mengajar bahasa arab.

Farid merupakan salah seorang yang turut membidani lahirnya IAIN yang dirintis tahun 1949. Dimulai pada tanggal 12 Agustus 1950, Kementerian Agama mengambil alih Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia untuk selanjutnya pada tanggal 26 September 1951 dibuka secara resmi menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Pada tahun 1960, PTAIN digabung dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta. Penggabungan kedua institusi inilah yang kemudian berkembang menjadi IAIN Yogyakarta. Farid Maruf sempat menjadi dosen luar biasa dalam mata kuliah Ethika di IAIN sampai tahun 1963.

Mulai tanggal 1 Januari 1951 sampai 20 Juni 1965, Farid Maruf dipercaya menjabat sebagai Kepala Djawatan Agama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat dekat dan peduli dengan bawahannya. Dia tidak segan berbincang-bincang dengan bawahannya serta memberikan jalan keluar mengenai masalah pekerjaan dan rumah tangga. Apabila ada pegawai yang sakit, dia menyempatkan diri untuk mengunjungi dan memberikan dukungan baik moril maupun materiil.

KH. Zuchal Kusumo (1966-1971)

Zuchal Kusumo lahir pada tahun 1911 di Kauman Yogyakarta dari sebuah keluarga pejuang kemerdekaan. Ayahnya adalah Ki Bagus Hadi Kusumo seorang tokoh besar dan termasuk tim perumus ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Ayahnya juga termasuk tokoh Muhammadiyah. Darah inilah yang mengalir dalam diri Zuchal Kusumo. Dari lingkungan kampung yang kondusif dan nasab orang tua inilah yang membentuk Zuchal Kusumo menjadi seorang yang gemar belajar agama.

Karena itu pula, pilihan sekolahnya sejak awal sampai lulus pada tahun 1934 tetap di Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian ia diterima sebagai guru agama pada tahun 1936 di Kabupaten Jombang. Dia juga aktif menjadi pengurus Muhammadiyah, Partai Masyumi dan GPII. Keaktifannya ini mengantarkannya menjadi Ketua DPR GR Kabupaten Jombang pada tahun 1961.

Selepas dari anggota DPR GR Kabupaten Jombang, Zuchal Kusumo masuk kembali ke Departemen Agama. Tahun 1964 menjadi Penilik Guru Agama Islam di Kabupaten Jombang. Dua tahun kemudian Zuchal Kusumo diangkat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Agama Provinsi DIY (1966 1970). Selama menjabat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Zuchal Kusumo telah memberikan sumbangan yang cukup berarti. Kontribusi yang diberikan bagi pengembangan Departemen Agama tersebut adalah upaya mewujudkan departemen ini menjadi sebuah departemen yang dapat diterima baik oleh masyarakat maupun oleh instansi lain. Hal ini jelas terkait dengan pada masa itu kantor Perwakilan Departemen Agama Provinsi D.I. Yogyakarta masih ikut nebeng di komplek Pemda DIY yang ada di Kepatihan.

Drs. H. Zubaidi (1980-1981)

Zubaidi Badjuri yang lahir di Kotagede Yogyakarta pada tanggal 11 Oktober 1923 berasal dari lingkungan keluarga yang cukup sederhana dan bersahaja dari pasangan H. Muhammad Badjuri dan Halimah Badjuri. Dia mengawali pendidikan formalnya di SD Muhammadiyah Bodon Kotagede, kemudian dilanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Dia juga sempat masuk Pondok Pesantren Tremas, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dan satu angkatan dengan mantan Menteri Agama RI H. Mukti Ali. Setelah selesai di Pondok Tremas, Kakanwil Depag DIY yang ke-5 ini melanjutkan pendidikannya di beberapa perguruan tinggi meskipun tidak dilalui secara terus-menerus, yang diawali di UII Yogyakarta, kemudian UGM, dan terakhir UNTAG Jakarta yang selesai pada tahun 1971.

Dalam karir PNS, Zubaidi yang mempunyai hobby membaca dan jalan sehat ini, mengawali pengabdiannya sebagai staf di Departemen Agama tahun 1955. Selama kurang lebih dari dua puluh tahun ia berpindah-pindah tempat tugas dari satu kota ke kota yang lain. Di sela-sela kesibukannya di birokrasi ia juga masih diminta untuk mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1980 1981). Pada tahun itu pula ia diminta untuk kembali ke Yogyakarta dan memimpin Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama kurang lebih satu tahun hingga tahun 1981.

Drs. H. Suyoto Hadiprayitno (1981-1988)

Mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi DI Yogyakarta ke-6 ini lahir 15 September 1940. Suyoto melewatkan masa kecilnya di Yogyakarta. Pendidikan dasar (SD) ditamatkan tahun 1953 kemudian dilanjutkan ke PGA selama empat tahun. Tamat PGA, Suyoto melanjutkan ke PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) selama tiga tahun dan langsung masuk ke dunia kerja. Sekalipun sudah bekerja, ia masih menempuh kuliah di Fak. Pendidikan jurusan Ilmu Keguruan, Universitas Gadjah Mada sehingga ia menyandang gelar Bacheloriat. Suyoto diangkat sebagai PNS, tanggal 1 Juni 1960. Selama kurang lebih dua tahun, Suyoto menjadi staf di KUA Kecamatan Jetis menyusul kepindahannya sebagai staf Bagian Aliran Kerohanian selama empat tahun (1962-1966). Pada tahun 1966 ia mulai diberi amanah jabatan sebagai Kepala Bagian Ibadah Sosial kemudian menjadi Kepala Subbag Umum pada tahun 1972. Ia juga pernah menjabat Kepala Bagian Haji pada tahun 1975, dan setelah itu diangkat sebagai Kepala Bagian Sekretariat (sekarang Kabag TU). Baru pada awal tahun 1981 Suyoto diangkat sebagai Kakanwil hingga pertengahan tahun 1989.

Drs. H. Sudijono,MA (1999-2003)

Drs. H. Sudijono bertugas sebagai Kakanwil Depag DIY pada awal reformasi. Ia lahir di Kulonprogo, 5 Desember 1946. Mengawali pendidikan di SRN Temon lulus tahun 1959 kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta lulus tahun 1966 dengan tambahan Ijazah SMP tahun 1963. Tidak sampai di situ, Sudijono kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Ketika masih di bangku kuliah ini, terhitung mulai tanggal 1 Desember 1967 ia diangkat sebagai Pegawai Departemen Agama dan bertugas sebagai guru MTsAIN Tempel (sekarang MTsN). Sekalipun demikian SK pengangkatan ini baru diterima bulan Desember 1969 bersamaan dengan ijazah Sarjana Muda di IAIN. Jabatan Kepala Kantor Departemen Agama Bantul diemban pada tahun 1991 dan di tahun 1997 menjabat sebagai Kepala Bidang Urais Kanwil Departemen Agama Provinsi DIY hingga ia diangkat sebagai Kakanwil Departemen Agama DIY tahun 1999.

Sumber : https://yogyakarta.kemenag.go.id/artikel/37701/kakanwil-kemenag-diy-dari-masa-ke-masa

Leave a comment