“Saatnya Kita Tumbuhkembangkan Sikap ‘Hilm’”

muhsin hSANG PENYABAR, itulah predikat yang pantas diberikan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Betapa tidak? Ketika usai perang Uhud, beliau – dengan sangat lembut – menyapa umatnya dengan sapaan yang amat santun, dan seraya berdoa kepada Allah untuk memberi maaf dan ampunan kepada siapa pun yang dianggap oleh pasukan Perang Uhud sebagai biang kekalahan telak melawan musuhnya. Padahal, andaikata – pada saat itu – Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam meluapkan kemarahannya pun semua orang memaklumi. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam paham bahwa Allah tak pernah melarang siapa pun yang dizalimi untuk membalas kezaliman itu dengan balasan yang sepadan, tetapi memaafkan kepada semua orang yang pernah berbuat zalim kepada dirinya jauh lebih baik nilainya.

Simaklah kembali dengan cermat esensi firman Allah dalam QS Âli ‘Imran, 3: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu [maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Ayat itu mengingatkan kepada kita bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam benar-benar pemimpin yang mampu bersikap ‘hilm’ pada saat yang tepat. Sikap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal itu, berkali-kali dibuktikan dalam wilayah praksis oleh beliau. Sebagai sebuah contoh, pada suatu hari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ (isterinya) yang tengah duduk santai bersama suaminya — Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam — dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang meminta izin untuk masuk ke rumahnya dengan ucapan kasar “assâmu ’alaikum (yang bermakna umpatan kasar: “semoga anda celaka”)” sebagai ganti dari ucapan lembut as-salâmu ’alaikum yang seharusnya diucapkan olehnya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, tak lama kemudian datang lagi seseorang (Yahudi) yang lain yang melakukan perbuatan yang sama dengan pendahulunya, dia pun masuk dan mengucapkan ungkapan kata yang sama: “assâmu ’alaikum”. Bisa dipahami, bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam beserta isterinya. Dan, ketika menyaksikan perilaku mereka, Aisyah pun gemas, lalu dengan spontan berteriak: “Kalianlah yang semestinya celaka!”

Melihat sikap isterinya (‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ), ternyata Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kurang berkenan, dan sama sekali tidak menyukai reaksi keras ‘Aisyah terhadap perilaku kedua orang tersebut. Dan beliau pun secara spontan menegurnya: “Aduhai ‘Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah- lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah?” ‘Aisyah pun bertanya: “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?” Belia pun menjawab: “Ya, aku benar-benar telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan saya berpendapat bahwa jawabanku itu sudah cukup.”

Sebagaimana yang tersebut dalah hadits beikut. Suatu ketika, ‘Aisyah radhiyâllahu ‘anhâ pernah bertanya kepada Rasulullah shalallâhu alaihi wa sallam:

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah engkau pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?”. Beliau menjawab: “Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa al-‘Aqabah, saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku, hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa’âlib (Qarnu al-Manâzil). Aku menengadahkan kepalaku, dan ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku; lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku, seraya berkata; “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu”. Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata; “Wahai Muhammad”. Maka dia berkata; “apa yang kamu inginkan, katakanlah. Jika kamu kehendaki, akan aku timpakan kepada mereka dua gunung ini”. Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak (maksudnya: jangan kau lakukan!) Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz IV, hal. 139, hadits no. 3231-Muslim, Shahîh Muslim, juz V, hal. 181, hadits no, 4754 dari ‘Urwah bin az-Zubair radhiyallâhu ‘anhu)

Sikap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ini telah membuktikan bahwa beliau memang telah menjadi seorang ‘penyabar’, yang mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada isteri dan umatnya. Beliau telah memiliki “kepribadian” matang dalam menghadapi provokasi apa pun dan oleh siapa pun, tidak mudah terpancing amarahnya. Inilai yang dalam istilah psikologi disebut sebagai “kematangan emosi”, sebuah pengendalian emosi yang sangat luar biasa”. Dan itulah sikap ‘hilm’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam Mampukah kita meneladaninya?

Persoalan ‘salam’ sering dianggap sebagi sesuatu yang sederhana. Padahal, kalau kita rujuk pada hadis Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: “Maukah kamu kutunjukkan sesuatu, yang bila kau lakukan kamu sekalian akan benar-benar saling-mencintai? Tebarkan salam!” (Hadis Riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu), ternyata ‘salam’ benar-benar mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Salam bukan sekadar pembuka kata dalam setiap perjumpaan dan perpisahan. Salam – seharusnya — bisa menunjukkan kepribadian seseorang. Hadis Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersebut memberi isyarat akan artipentingnya “salâm”. Bukan sekadar mengucapkan salam, dan tidak sesederhana itu. Karena kata “salâm” dalam hadis itu bisa dimaknai lebih daripada sekadar mengucapkan salam secara verbal. Lebih jauh dari itu, salâm bisa dimaknai sebagai “kedamaian” dalam pengertian luas. Tebarkan kedamaian untuk siapa pun dalam konteks apa pun. Karena Islam hadir dengan tawaran damai: “peace for all” (damai untuk semuanya), selaras dengan misi kerahmatannya, rahmatan li al-âlamîn. Itulah kurang-lebih makna kalimat “afsyus salâm” (tebarkanlah kedamaian untuk semua orang) dalam hadis di atas.

Kasus Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang disapa oleh kedua orang Yahudi dengan ungkapan kasar, di ketika bercengkerama dengan ‘Aisyah di atas, bisa memperjelas pelajaran Rasulullah s.a.w. kepada diri kita, bahwa kita – sebagai umatnya – harus selalu mengedepankan sikap ‘hilm’, seorang penyabar yang selalu bisa ‘memaafkan’.

Andaikata kita diberi pilihan untuk menghukum atau memaafkan kesalahan orang, seharusnya ‘memaafkan’ lebih kita pilih daripada ‘menghukum’ siapa pun yang pernah bersalah kepada diri kita.

Jadilah manusia yang memiliki sifat ‘hilm’, seorang yang berkepribadian ‘penyabar’, yang bisa bersabar di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun dalam situasi dan kondisi apa pun dengan mengedepankan sikap “memberi maaf”, bahkan sebelum siapa pun meminta maaf kepada diri kita.

Balaslah setiap keburukan dengan beragam kebaikan, dan hindarilah tindakan membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Itulah sikap muslim sejati! Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mampu melaksanakannya, mampukah diri kita – sebagai pengikut setia beliau — meneladaninya?

Mudah-mudahan, dengan menjadi seseorang yang memiliki sikap al-hilm, kita semua bisa menjadi pribadi “yang tegas dan santun” kepada siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Ngadisuryan – Yogyakarta, Senin – 21 November 2016

Sumber : Tulisan Ust.Drs.H.Muhsin Haryanto.,M.Ag. (Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Dosen UMY, dan UNISA)

Leave a comment