Catatan Pagi: “Akhirnya Berhasil Juga”

MUHSIN HARYANTO,10 JANUARI 2016.

Saya masih ingat, betapa sulitnya mulai untuk menulis. Apa yang yang mau saya tulis serasa tak mungkin saya tulis, karena saya tidak yakin bahwa apa yang mau saya tulis adalah sesuatu yang pantas untuk saya tulis. Sampai pada suatu saat saya temukan gagasan yang membuatku gelisah untuk segera menulis. Sebuah puisi dengan judul ‘Gelisah’ pun saya tulis dengan segala keterbatasan kemampuan saya untuk menulis. Dan hasilnya: “tidak memuaskan”. Tetapi, puisi yang saya tulis — pada saat diri saya masih sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta — itu tetap saja menjadi sebuah kenangan indah bagi diri saya, karena tulisan itulah yang saya anggap sebagai tulisan pertama saya, yang saya tuangkan dengan segala kesungguhan saya untuk benar-benar ‘menulis’. Sejelek apa pun isinya.

Pernah — suatu saat — saya merasa bahwa diri saya sama sekali tidak memiliki bakat untuk menulis, hanya karena setiap kali mau menulis hampir selalu kesulitan untuk menuliskan kata yang pantas untuk saya tulis. Hingga suatu saat saya temukan sebuah kalimat: “mulailah untuk menulis dengan kata apa pun yang kamu maui, dan jangan pernah ragu.”

Akhirnya saya temukan jawaban, bahwa untuk menulis memerlukan kemauan dan keberanian. Menulis memang bukan pekerjaan mudah bagi para pemalas dan pengecut. Bahkan saya katakan, kalau ‘kamu’tidak mau untuk segera menulis, jangan pernah bermimpi untuk menjadi ‘orang hebat’. Dan jangan sekali pun mengambinghitamkan ‘bakat’-mu, karena ‘tidak bisa’ menulis adalah perbuatan para pengecut. Jadilah seorang pemberani dengan cara ‘mau menulis’.

Suatu saat ‘saya’ pernah menemukan sebuah sebuah judul tulisan: “Menulis Bukan Bakat. Menulis Murni Skill”. Sebuah judul yang telah membuat diri saya tersentak, dan segera bangkit untuk segera menulis. Dan saya katakan kepada diri saya: “yang perlu ‘kamu’ lakukan hanyalah duduk, goreskan pena, dan coba tulis apa yang saat itu ada dalam pikiranmu. Dan jangan pernah takut ‘salah’. Lakukan hal itu terus-menerus setiap saat dirimu ingin menulis. Bertekadlah untuk menyediakan waktu khusus setiap saat untuk ‘hanya menulis’. Berjanjilah pada dirimu, pada saat tertentu untuk tidak akan menjalani aktivitas lain, selain “menulis”.

Barangkali, satu jam ‘kamu’ hanya bisa menghasilkan satu halaman. Jangan ‘kecewa’. Bila ‘kamu’ secara rutin serta konsisten untuk melakukannya setiap hari, jangan salahkan dan jangan pernah heran bahwa bila suatu saat kamu ‘kaget’ ketika menemui tulisanmu sudah menjadi beratus-ratus halaman.

Mungkin suatu saat kamu bertanya: “apakah tulisan yang saya hasilkan dari proses seperti ini benar-benar berharga?” Jawabnya: “forget it” . Lupakan terlebih dahulu. Yang terpenting adalah: “kamu sudah berhasil untuk menulis, dan sudah bisa membiasakan diri untuk menulis.” Masalah orisinalitas dan kualitas gagasan, dan bahkan kesempurnaan logika dan bahasanya, biarkan semua itu berjalan seiring dengan perjalanan waktu. Yakinkan kepada dirimu bahwa kamu ‘bisa’.

Katakan kepada dirimu: “ Jika para penulis besar bisa menjadi sebesar saat dirinya diakui menjadi orang besar, pasti dia pernah mulai ketika dirinya belum dikenal sama sekali sebagai orang besar. Dia pernah mulai dari titik ‘nol’, lalu berjalan seiring dengan kesungguhannya untuk menjadi penulis terkenal. Kalau ‘dia’, dengan kesungguhannya bisa menjadi orang besar (penulis terkenal), kenapa hal ini tidak akan pernah terjadi pada dirimu, kalau ‘kamu’ mau bersungguh-sungguh, ‘berupaya’ untuk menjadi seorang penulis seperti dirinya?

Ayolah, mulai dari sekarang: “Jadilah seorang penulis besar dari hal-hal yang paling mungkin untuk kamu tulis. Mulailah dari sebuah keyakinan, bahwa kamu bisa menjadi penulis besar hanya karena kamu ‘mau dan berani.”

 Jangan pernah menikmati untuk menjadi seorang ‘pemalas dan pengecut’. “Jadilah pekerja keras dan pemberani, di mana pun dan kapan pun, dan berhadapan dengan apa dan siapa pun, sekarang juga!”

Akhirnya, setelah sekian lama saya berjuang, saat ini saya merasa telah berhasil menjadi orang yang menikmati kegiatan ‘menulis’. Seburuk apa pun tulisan saya.

Yang terpenting bagi diri saya, saat ini saya telah banyak ‘bisa’ menuangkan gagasan saya dalam berbagai macam tulisan, entah … sudah ‘berapa ribu’ tulisan yang saya hasilkan, saya tidak pernah menghitungnya. Dan Alhamdulillah — sampai saat ini — ‘tidak sedikit’ orang yang mau membacanya.

Syukran Katsîran, ya Allah. Semoga ‘apa’ yang telah bisa saya perbuat, utamanya ketika saya telah berhasil ‘menulis’ dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, benar-benar menjadi amal saleh ‘yang Engkau ridhai’ bagi diri saya.Berikan kekuatan kepada diri saya untuk tetap bisa ‘menulis’, kapan pun dan di mana pun saya berada.

Āmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.

Ngadisuryan-Yogyakarta, Ahad – 10 Januari 2016.

Leave a comment