Jelek-jelek Begini, Saya Ketua SKM.

Turun dari mobil, Lelaki itu tersenyum haru. Matahari masih bertengger di ufuk timur. Cuaca cerah. Tampak barisan rapi antrian santri sekedar bersalaman. Ustadz-ustadz sejak pukul 06.00 tegak berdiri di depan madrasah. Para santri mulai ramai memasuki ruang kelas.

Lelaki itu menatap ke sekeliling. Pandangannya tidak fokus. Apa yang dilihatnya: masjid, ruang kelas, santri, dan ustadz-ustadz, seperti menjadi pintu lorong waktu yang mampu memutar jarum jam ke arah masa lalu.

Ia menutup pintu mobil kuat-kuat, berjalan, dan menghampiri saya yang tengah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.

Senyumnya mengembang, “Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku, “Apa kapar, Bang?”

“Apek. Buya sudah datang?”

“Masih otw, Bang.”

Saya akrab memanggilnya Bang, Bang Irud. Khalayak lebih mengenalnya dengan sapaan Pak Irud. Nama aselinya Khoiruddin Bashori. Lelaki kelahiran Yogyakarta 53 tahun silam ini telah banyak makan asam-garam. Sejak usia remaja, sampai saat ini, tidak pernah lepas dari lingkungan pergerakan. Bahkan, besar dalam keluarga pergerakan. Soal pengalaman organisasinya ini, akan kita selami lebih dalam lagi.

Sejenak kita surut kebelakang, surut ke suatu masa yang membuat Bang Irud, saat ini, tersenyum bangga ketika berkunjung ke Mu’allimin, melihat masjid, ruang kelas, keriuhan santri, dan kewibawaan ustadz-ustadz. Kunjungan ini dalam rangka rapat Tim Pengembangan Mu’allimin. Ketuanya Buya Syafii Maarif.

“Dulu, saya berlatih pidato di masjid ini.” Tutur Bang Irud, haru, namun bangga.

Seperti sejarah hidup yang berserak, di tempat ini, kepingan mozaik masa lampau lelaki ini mulai disusun. Disusun dalam bingkai kejujuran yang otentik, haru, menggemaskan, menggelikan, namun juga membanggakan.

Masjid ini menjadi saksi bisu penggemblengan ribuan anak manusia. Pada suatu Jum’at, di atas mimbar tua itu, di depan ratusan jama’ah, Irud muda unjuk gigi. Dengan badan tegak, penuh percaya diri, teks khotbah dikeluarkan dari dalam kantong baju koko-nya. Batang usianya 17-an. Masih sangat muda, bukan?

Setelah jum’atan usai, sosok sepuh penuh wibawa, KH. Amin Syahri, mendekati Irud muda.

“Nak, khotbah kok seperti ngejar pencuri”

Tanpa disadari, khutbah Irud muda terlampau cepat, menggebu, khas anak tujuhbelasan. Komentar KH. Amin Syahri ini rupanya mengendap dalam memori Bang Irud hingga kini. Namun siapa sangka? Asam-garam ini pada saatnya membawa Bang Irud berdiri tegak di atas mimbar sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM dan Rektor UMY. Masa depan memang ghaib, namun dapat direncanakan. Sekalipun manusia tak berdaya mewujudkan rencananya menjadi nyata, pasti mampu mengupayakannya.

Kini, Tatapan Bang Irud tertuju pada satu bangunan kuno di utara masjid.

“Dulu, KH. Mawardi tinggal di sini.”

Rumah dinas direktur itu kini masih berfungsi sebagai rumah dinas direktur. Tembok tebal, atap menjulang, pintu dan jendela tinggi dan lebar, adalah khas bangunan era penjajahan.

“KH. Mawardi,” lanjutnya, “adalah sosok yang tegas, disiplin, peduli, dan dalam kesehariannya menampilkan keteladanan.”

“Dalam organisasi, SKM misalnya, beliau banyak menginspirasi kami dalam gaya kepemimpinan.”

SKM, singkatan dari Sinar Kaum Muhammadiyah. Organisasi kesiswaan Mu’allimin. Sekalipun telah digantikan IPM, tiap tahun milad SKM selalu diperingati. Dari Rahim SKM inilah orang-orang besar banyak dilatih berpidato di muka umum, terampil memimpin, berani berpendapat, dan bertanggungjawab.

“Jelek-jelek begini,” kata Bang Irud, merendah, “saya dulu Ketua SKM, loh.” grin emotikon

“Hehehe…”

Erik Tauvani

Leave a comment