Antara Santri Prihatin dan Santri Hedonis: Sebuah Renungan

Santri dalam kamus bahasa Indonesia berarti orang yang mendalami agama Islam, orang yang shaleh. Dalam pandangan masyarakat santri adalah seorang atau sekelompok orang yang belajar di pondok pesantren, baik modern maupun tradisional. Sedangkan kata hedonis sendiri berarti pengikut paham hedonism, yaitu paham yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta adalah sekolah yang bisa disebut juga madrasah, bisa juga sekolah berasrama, dan juga pondok pesantren. Ketiga sebutan ini tidak salah, karena Mu’allimin sendiri memang dalam kurikulum akademiknya sama seperti sekolah umum lainnya di Indonesia dan kurikulum pesantren yang mengajarkan santrinya pelajaran seperti tarjamah lafdziyyah,qiroatul kutub, tafsir maudhu’I, imla, dan pelajaran lain yang diajarkan selayaknya di pondok-pondok modern maupun tradisional.

Semenjak tahun 2000-an, terjadi sedikit pergeseran karakter pada santri-santri Mu’allimin. Mereka kehilangan rasa “prihatin”. Saya yang terlibat dalam  masa-masa ini pun merasa demikian. Saya pribadi sangat menyayangkan kondisi santri Mu’allimin yang sekarang. Saya berani menyatakan demikian karena saya terlibat langsung dalam proses belajar mengajar bersama mereka di asrama sebagai musyrif. Walaupun tidak semua santri demikian, namun tidak sedikit dari santri Mu’allimin yang kekurangan rasa prihatin.

Terlihat sepele mungkin, namun saya berani menjamin bahwa para alumni Mu’allimin pra gempa Jogja yang sekarang telah sukses dalam kehidupannya, semenjak di Mu’allimin sudah menanamkan pada diri mereka sifat prihatin. Kemudian, sifat itu tidak hilang saat mereka sukses, namun mereka menjadi seorang yang sederhana lagi dermawan.

Saya masih ingat, tepatnya hari selasa 28 Mei 2015 Dr. Khoruddin Bashori pernah berpesan kepada saya, dan beberapa alumni muda yang lain saat kita berkunjung di rumahnya. Beliau berkata “Orang-orang sekarang tidak terlalu peduli dimana kamu sekolah, dimana kamu belajar. Orang-orang hanya butuh bukti bahwa kamu memiliki kemampuan, kredibilitas, dan bisa bersaing dengan orang lain. Sing paling penting, ojo ngandalke jeneng Mu’allimin nek koe raiso ngopo-ngopo. Dan yang paling penting, jangan bertopang pada nama besar Muallimin jika kita tidak punya kualitas yang ditawarkan. Oleh sebab itu, saat kita memiliki kemampuan secara otomatis nama Mu’allimin akan menjadi baik, begitu pula sebaliknya.

Saya membagi kriteria alumni menjadi 5 tipe. Pertama, alumni yang kembali ke almamaternya dan berjuang demi kemajuan almamaternya dulu. Kedua, alumni yang berperan aktif di masyarakat sehingga mengharumkan nama Mu’allimin di masyarakat. Ketiga, alumni yang tidak memiliki peran aktif baik di dalam almamater maupun di masyarakat namun tidak juga membuat jelek nama almamater, artinya alumni yang biasa saja. Keempat alumni yang menjadikan nama almamater jelek karena perangainya di masyarakat. Dan terakhir, alumni yang kembali ke almamater demi kemajuannya dan berjuang di masyarakat dengan mengamalkan segala yang telah di dapatkannya di Mu’allimin dulu.

Kembali kepada santri hedonis tadi. Menurut saya, ada beberapa faktor yang menjadikan mereka minim rasa prihatin saat di Mu’allimin. Faktor internal, yaitu dari pihak keluarga. Anak yang dimasukkan di Mu’allimin saat di rumah begitu dimanja, segala permintaan dituruti oleh orang tuanya sehingga mereka cenderung egois dan merasa tidak pernah kekurangan, karena mereka dilahirkan dalam kondisi berkecukupan. Kemudian faktor external, yaitu faktor dari luar lingkungan keluarga. Santri pengen gaul, mereka merasa gengsi dengan anak-anak dari sekolah disekitar mereka. Nah, itulah problem yang sedang dihadapi banyak santri Mu’allimin saat ini. Mereka suka ikut-ikutan tren di luar, sehingga mereka lupa bahwa mereka memikul nama besar Mu’allimin, sekolah yang dibangun langsung oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.

Suatu hari setelah Subuh saya sampaikan tentang hal ini (hedonisme) kepada santri di musholla asrama. Niat awal hanya mengingatkan untuk menghilangkan kebiasaan ghasab sandal di asrama. Namun, karena sudah cukup lama saya menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan, maka inilah saatnya. Dengan lantang saya sampaikan dihadapan mereka, mereka diam memperhatikan dan tidak ada satupun yang tidur atau mengantuk. Saya teriakan bahwa jika kalian mau sukses, belajarlah dari kakak-kakak alumni kalian yang telah sukses. Apa yang mereka (para alumni) lakukan? Salah satunya adalah mereka terbiasa hidup prihatin sejak dulu, dan bahagia lahir batin sekarang. Jangan terbalik, kalian senang-senang sekarang tapi kelak tua nanti kalian hidup sangat memprihatinkan.

Saya sebagai musyrif hanya mampu mengingatkan adik-adik saya, calon Anak Panah Muhammadiyah yang sebentar lagi akan dilepaskan untuk selalu berusaha menjalani hidup dengan sederhana. Jangan meghambur-hamburkan uang untuk hal tidak perlu, bahkan saya selalu menganjurkan setiap bulan untuk berinfaq dan membeli satu-dua buku apa saja asal tidak untuk di foya-foyakan. Saya juga selalu menceritakan pengalaman saat bertemu dengan alumni Mu’allimin yang sekarang banyak menjadi tokoh di masyarakat, harapan saya supaya mereka lebih semangat dalam meniti kehidupan di “penjara suci” ini. Terakhir saya juga berpesan pada mereka untuk membudayakan silaturahmi kepada siapa pun, terlebih orang-orang hebat supaya bisa tertular ilmu yang mereka miliki. Mungkin sebatas itu yang baru bisa saya dan musyrif-musyrif lain lakukan untuk menjaga calon kader-kader bangsa kelak ini.

Oleh:  Mohamad Wildan Kurniawan. Penulis merupakan alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (2013) dan saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga. 

sumber : http://anakpanahinstitute.org/antara-santri-prihatin-dan-santri-hedonis-sebuah-renungan/

Leave a comment