Membumikan Ruuhul Islam

Di bulan yang penuh berkah nan penuh ampunan (Ramadhan) 1439 H, kurang lebih 400 orang santri Mu’allimin, diterjunkan ke berbagai penjuru. Sejak awal Ramadhan sampai tiga minggu setelahnya, para santri ini dilepas ke masyarakat. Bukan dilepas karena sudah tak berguna di pesantrennya, namun, untuk membuktikan sejauh mana kualitas seorang santri, yang di mana Ma’had Mu’allimin selalu saja mengunggulkan kader, kader, dan kader. Jadi, ini adalah pembuktian!?

‘’ Islam, sesuatu yang indah, mendamaikan siapa saja yang paham akan maknanya. Dan banyak juga orang yang menafsirkan islam dengan akalnya masing-masing, maka kita pun juga tak boleh menyalahkan pendapatnya. Sehingga, pada kesempatan kali ini, penulis tak akan mencoba berbicara apa itu Islam, bagaimana seluk beluknya, atau seperti apa. Tapi, penulis hanya akan sedikit berbagi tentang peace,tragedy, and victory in Islam.‘’

– 15 Mei 2018, saya bersama seorang santri, Azhari Rahman Wyana hafidzahullahu ta’ala, di lepas oleh Mu’allimin untuk menunaikan program Muballigh Hijrah. Tak tanggung-tanggung, kali ini dijemput langsung oleh pihak yang akan mengurusi kami, beliau rela berpuluh-puluh kilo meter menjemput, hanya demi kami. Kami ditempatkan di sebuah desa bernama Gedegan. Desa ini berada di lereng Gunung Kembang, Kabupaten Wonosobo. Setibanya di sana, kami dikagetkan dengan sekumpulan jama’ah masjid, yang riuh karena kedatangan kami. Bahkan, ada anak kecil yang langsung mencium tangan kami, saking asingnya kami di desa ini. Kami pun juga mendengar berita bahwa, masjid ini terkenal angker dan banyak penghuni ghaibnya. Boleh juga, namun, bukan itu yang menjadi persoalan bagi kami berdua. Di tempat manapun, sebenarnya tak masalah bagi kami, tempat yang nyaman alhamdulillah, yang biasa-biasa saja pun wa syukrulillah. Tapi kami pikir, arep ngopo wae yo ning kene (mau apa saja di sini). Bismillah…

– Kekagetan kami tak berhenti di sana saja, bertambah dengan cara shalat tarawih yang dua-dua, sensitifitas Muhammadiyah-NU di masyarakat, keterbatasan air yang masih bersumber pada mata air buatan, dan juga masyarakat yang masih minim dari kata cukup kondisi perekonomiannya. Namun, yang membuat kami semakin takjub adalah nrima ing pandum-menerima apa adanya- masyarakat, atas karunia dari Tuhan seluruh alam, Allah SWT. Walaupun ekonomi tersendat, namun ibadah dan kehidupan masih lancar, dan sesungguhnya inilah kedamaian Islam. Yakni ketika, Mahabbah Al-Adna dikalahkan oleh Mahabbah Al-Wustho, atau bahkan dikalahkan dengan Mahabbah Al-Uula.

– Permulaan yang mengasyikkan, pikir kami. Di awal penyambutan, saya seorang diri diklaim telah hafal 20 juz, what it this? Padahal 3 juz saja belum, apalagi 20. Apakah karena partner saya sudah tuntas 30 juz, agar tidak berbanding terbalik dengan dia, lalu diklaim demikian? Wallahua’lam. Namun, setelah beberapa saat muhasabah diri, saya jadi teringat akan satu hal. Sebelumnya, memang telah ada niat jika di bulan Ramadahan ini, maksimalkan hafalan. Eh ternyata, sebelum hafalan malah sudah dibilang hafal 20 juz, alhamdulillah. Walhasil, ternyata memang benar, jika kita berniat berbuat baik, kemudian, kita memohon kepada Allah agar dikabulkan niat baik kita, insyaallah jalan itu ada. Selaras dengan ucapan Ust. Adi Hidayat Lc. MA –sifat do’a itu dikabulkan, jadi, tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Namun, yang membuat do’a itu belum dikabulkan atau bahkan tak kunjung dikabulkan, Ialah seberapa cepat kita merespon panggilan Allah. Semakin cepat respon kita kepada Allah, semakin cepat pula Allah merespon (do’a) kita, dan semakin lambat respon kita kepada Allah, semakin lambatlah pula Allah merespon (do’a) kita. Naasnya, dikarenakan kewajiban di masyarakat tak hanya hafalan, dakwah pun harus tetap jalan. Akhirnya, selama di sana 1 juz pun belum tuntas, namun setidaknya Allah telah menggerakkan hati seseorang untuk mengatakan bahwa saya telah hafal 20 juz (Amiin). Mungkin bisa dikatakan hal ini sebagai tragedy in islam, ketika prasangka baik muncul atas dasar ikatan saudara seiman, dan ketika Islam mewarnai tanah Indonesia. Sehingga, tak ada prasangka buruk antar sesama, yang ada hanyalah damai, adil, makmur, dan aman sentosa J.

– Sebenarnya, tak jauh beda pengalaman muballigh hijrah setiap santri Mu’allimin, mengisi TPA, mengisi pengajian, mengajar TK/SD/SMP atau bahkan SMA, dan lain sebagainya, pokoknya dakwah. Nah, tapi yang menjadi pembeda ialah kesan masyarakat terhadap kita, baik di kota ataupun desa, tetaplah masyarakat menjadi acuan utama kita. Ketika, masyarakat sudah dapat ditaklukkan, maksudnya masyarakat aware for us, so, victory in our hand’s, and this is victory in islam.

– Ketika ruh telah terlepas dari jasad, maka akan berpulang ke alam barzakh. Dan sewaktu ruh masih menyatu dengan jasad, tugas kitalah sebagai da’i yang kaffah, karena kita semua adalah dai sebelum menjadi yang lain. Ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna ‘anil munkar, semboyan itulah yang seharusnya digaungkan oleh setiap ummat muslim, wa bilkhusus santri Mu’allimin Muhammadiyah. Sebelum jadi kader ulama, pemimpin, dan pendidik, sejatinya kita adalah pengajak (da’i). Dari penuturan di atas, ada beberapa peristiwa menarik di tempat kami. Pertama, di kaki gunung itu kami dipertontonkan, banyaknya masjid yang melantunkan ayat suci Al Qur’an, tak kenal pagi, siang, sore, dan malam, masyarakat di sana rajin sekali tadarusan. Dan kebetulan, karena hadirnya kami, jama’ah pun lumayan bertambah, kata masyarakat sekitar. Dan mereka pun tak ingin jikal pahala gor dipek dewe (pahala dimilki sendiri), maka masyarakat saling mengamalkan Q.S. Ali Imron: 104, yang senada dengan bermuhammadiyah, walaupun, sensitifitas NU-Muhammadiyah masih sangat kental di sana. Alhamdulillah dan sangatlah indah. Kemudian yang kedua, ini tak kalah mantap. Saat itu, ketika kami telah melepas lapar dengan berbuka, Azhari diperintahkan untuk imam shalat tarawih 1 juz di kota Wonosobo, wow!! Tapi bukan ini hebatnya. Lalu, ketika saya yang hanya menjadi imam di masjid lereng gunung, setelah itu tadarusan seperti biasa, dan ngobrol bareng masyarakat di sana. Lalu, masuklah waktu bagi saya untuk tidur di tempat tidur kami, yakni gudang masjid. Waktu itu, Azhari belum pulang dari kota Wonosobo, saya pun masih sendirian di kamar kami, yang masjidnya saja terkenal akan angkernya. Namun, juga bukan keangkeran yang menjadi topik di cerita kedua ini. Haa…ketika saya masih sendiri di kamar itu, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adanya makhluk Allah yang nongol di kaca pintu kamar, saya terperanjat kaget ketika melihatnya, tak hanya muncul sekali saja, namun sampai tiga kali, tetapi ia bukanlah makhluk yang aneh, hanyalah masyarakat sekitar yang prihatin karena saya sendirian di masjid. Selang beberapa saat, saya semakin takjub pada masyarakat sekitar, mereka rela menemani saya ngobrol sampai Azhari datang, padahal kita sebelumnya tak kenal, namun karena adanya label Islam, kita bisa akrab berbincang-bincang. Jayyid Jiddan!

– Puncaknya, yang menjadi ketakjuban mendalam bagi kami ialah, kekehnya masyarakat memegang teguh ajaran Islam. Walaupun ekonomi seadanya, perbedaan firqah tetap ada, teroris pun katanya pernah singgah di sini, namun masyarakat lereng gunung, yang dinamai dusun Gedegan ini, tetap kuat memegang ketauhidannya, Laailaahaillallah Muhammadurrasulullah.

“ Lha wong masyarakat lereng gunung saja gemar membumikan Ruuhul Islam, dengan berpegang teguh pada ketauhidan, lalu kita kapan? “

 

Ditulis oleh:

Afrizal Faza Haykal, santri kelas 4 MAK, Ma’had Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta ( 5/6/18 )

Leave a comment