REFRESHING IDEOLOGI KARYAWAN MU’ALLIMIN BERSAMA TOKOH PP MUHAMMADIYAH

Pada hari Kamis – Jum’at, 18 – 19 Januari 2018, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta kembali menggelar acara Refreshing Ideologi #sesi ke-2, bertempat di Asrama baru di sebelah barat Asrama Mu’adz bin Jabal Gang Sadewa Ketanggungan Wirobrajan Yogyakarta, yang kali ini peserta acara tersebut adalah para karyawan di lingkungan Madrasah mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam acara tersebut, beberapa tokoh PP Muhammadiyah berkesempatan mengisi materi, di antaranya adalah: Drs. HM. Alfian Darmawan, Drs. HA. Dahlan Rais, M.Hum., Drs. H. Mukhsin Haryanto, M.Ag, Dr. H. Abdul Mu’thi, M.Ed., dan Dr. H. Khoiruddin bashori, M.Psi.

Dalam pembukaan acara, Ustadz M.Alfian Dja’far, M.H., selaku Wakil Direktur II mengatakan bahwa acara ini dimaksudkan untuk meneguhkan kembali ideologi keislaman dan kemuhammadiyahan di kalangan karyawan.

Pada kesempatan materi pertama Drs. HM. Alfian Darmawan mengemukakan tentang peranan Mu’allimin dalam kesejarahan Muhammadiyah dan keindonesiaan. Dikemukakan pula oleh beliau beberapa kategori dan jenis orang ber-Muhammadiyah, di antaranya:

  1. Orang yang tidak mencari penghidupan di Muhammadiyah,tetapi berhikmat dan ikut membangun dan bekerja untuk kemajuan Muhammadiyah.
  2. Orang yang hidup di Muhammadiyah dan mau berjuang di Muhammadiyah.
  1. Orang yang hidup di Muhammadiyah, namun tidak peduli dengan Muhammadiyah.
  2. Orang yang cari hidup di Muhammadiyah, namun malah memusuhi Muhammadiyah.

Dalam kesempatan selanjutnya, pemateri Drs. HA. Dahlan rais, M.Hum., mengemukakan bahwa Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang senantiasa bergerak untuk mewujudkan visi dan misinya. Visi harus diikuti dengan aksi, karena aksi tanpa diikuti visi adalah tidak jelas.

Ada tiga unsur yang diperlukan dalam konsep kreatif, yaitu: kebaruan, solutif (pemecahan masalah), dan difergen (bersudut pandang banyak).

Selanjutnya dalam materi ketiga, Ustadz Mukhsin Haryanto mengemukakan tentang peneguhan bermuhammadiyah. Warga  Muhammadiyah harus selalu berusaha paham  tentang tata cara dalam beribadah dan berbagai amalan dalam kehidupan sehari hari, baik ibadah yang bersifat khusus maupun ibadah umum. Pada prinsipnya, amalan dalam Islam tidak ada yang bersifat memberatkan umatnya. Meskipun terdapat tuntunan di beberapa kisah nabi, namun tidak bersifat kaku. Pada akhirnya dikembalikan kepada kemampuan masing-masing personal.

Di Muhammadiyah tidak dituntunkan untuk saling mendeskreditkan satu umat dengan umat lain, tidak boleh saling mengkafirkan, membid’ah-bid’ahkan, atau hal lain.

Kemudian dalam kesempatan selanjutnya, dr Abdul Mu’thi mengemnukakantentang peran muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks kenegaraan, maka Muhammadiyah tidak alergi terhadap kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Dan juga akan selalu taat pada aturan yang ada di negara tersebut. Dalam bergaul harus berbaur, tidak menjaga eksklusivisme personal. Bernegara berarti dalam rangka menegakkan perintah Al Qur’an. Perkara bentuknya, tak masalah, karena sudah bersinggungan langsung dengan aspek muamalah. NKRI bagi Muhammadiyah adalah bentuk yang paling ideal, karena di situlah Muhammadiyah bisa merealisasikan dan mengaplikasikan visi dan misinya.

Muhammadiyah menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pembahasan tentang konsep Darul Ahdi wa Syahadah.

Dalam kesempatan materi terakhir Dr. Khoiruddin bashori menerapkan diskusi kelompok untuk membahas tentang Mu’allimin Jelang Abad Kedua.

Sesi yang menerapkan model diskusi kelompok ini menghasilkan hal-hal yang terkait dengan:

  1. Hal-hal yang tidak boleh berubah di madrasah memasuki abad ke-2:
    1. Sejarah/ciri khas sebagai sekolah kader.
    2. Sekolah 6 tahun.
    3. Visi dan misi.
    4. Sistem boarding.
    5. Logo madrasah.
  2. Hal-hal yang harus diubah atau ada perubahan:
    1. Kompetensi sesuai zaman.
    2. Sistem pengelolaan (SDM, administrasi, dll.).
    3. Sistem pendidikan.
    4. Libur sekolah hari Ahad.
    5. Lokasi kantor para staf.
    6. Kompetensi/keterampilan berbahasa dan baca Qur’an.
    7. Pola kepondokan dan manajemen asrama.

Menurutnya, perubahan sistem yang terjadi harus mempunyai indikator di antaranya:

  1. Faster (lebih cepat).
  2. Better (lebih baik).
  3. Cheaper (lebih murah).
  4. More simple(lebih simpel, sederhana).

Secara khusus, sebagai lembaga pendidikan atau sekolah kader yang bercirikan boarding school, maka semua warga madrasah pada dasarnya adalah sebagai guru atau pendidik bagi semua santri. Semua komponen madrasah memiliki tanggung jawab yang sama meskipun dengan porsi yang berbeda dalam perspektif transfer karakter kepada siswa. (Humas News).

Leave a comment