Articles

Perlunya Para Petarung

 

Selasa, 11 Agustus 2015, 10:32 WIB
 
Professor Ahmad Syafii Maarif
Professor Ahmad Syafii Maarif
 

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:Ahmad Syafii Maarif



Satu kali bersama Chairul Tandjung saya berkunjung ke Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang fenomenal. Sewaktu saya tanya tentang apakah untuk pembangunan kota sepenuhnya tergantung kepada kecukupan APBD, dijawab: sama sekali bukan. Lalu bagaimana? Bangun kepercayaan warga kepada pemerintah dan berdayakan mereka. Nanti dana akan datang sendiri. Demikian sederhana sebenarnya, tetapi di sinilah masalahnya: hanya segelintir gubernur/bupati/wali kota yang dipercayai rakyatnya. Sebagian mereka telah makan sumpah. Dan tidak sedikit pula yang telah jadi pasien KPK. Mereka memerintah dengan kepalsuan. Politik uang telah merusak parah sistem demokrasi kita.

Risma adalah tipe pemimpin petarung sejati. Masih ada sedikit pejabat lagi yang dapat dikategorikan sebagai petarung dari sekian ratus Dati II dan 34 propinsi. Mereka inilah sebenarnya yang bisa diharapkan membangun daerahnya masing-masing dengan tidak terlalu menggantungkan diri kepada PAD (Penghasilan Asli Daerah) dan APBD.  Adapun pejabat yang bukan petarung, kita tidak dapat dapat berharap banyak akan hasil kerjanya, karena bagi mereka menjabat bukan untuk membela rakyat, tetapi sebagai ranah untuk berdagang politik. Tipe inilah yang jumlahnya berjibun di republik ini. Mereka adalah parasit yang menggerogoti pundi-pundi negara.

Saya ingin menambahkan daftar petarung ini, sekalipun belum begitu dikenal publik. Namanya H. Musthofa, bupati Kudus periode kedua. Dia adalah salah seorang Tim Sukses Jokowi untuk sebagian kawasan pantura. Ketika dia berkunjung ke rumah saya pada tanggal 25 Juli 2015, dia sedikit kecewa mengapa setelah hampir setahun pemerintah belum banyak yang dihasilkan, sementara angka kemiskinan meningkat tajam. Penerimaan pajak merosot, nilai rupiah terhadap dolar mungkin sudah mendekati lampu merah, pertumbuhan ekonomi sudah di bawah lima persen, semua pengusaha mengeluh.

Sejak sekitar enam bulan yang lalu Musthofa melancarkan KUP (Kredit Usaha Produktif) untuk membantu para pengusaha kecil dengan tidak membebani APBD, tetapi bermitra dengan Bank Jawa Tengah. Sebagai seorang yang cukup lama bergerak di dunia asuransi merangkap sebagai pengusaha BPR (Bank Perkreditan Rakyat) di Semarang, Musthofa telah punya jaringan untuk menopang program KUP-nya. Untuk manfaat KUP, ada lima sasaran yang dituju: meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja, menurunkan angka pengangguran, menurunkan tingkat kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat desa. Musthofa mengatakan kepada saya program ini diilhami oleh Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya di Bangladesh yang disesuaikan dengan kondisi domestik. Yunus dikenal dunia sebagai “Banker to the Poor” (bankirnya orang miskin). Ajaibnya, bank ini adalah tanpa agunan, dan dahsyatnya angka kredit macet sangat rendah yang mayoritas nasabahnya adalah kaum perempuan.

 Pengalaman Musthofa di Kudus hampir serupa: rakyat kecil jika diberdayakan ternyata tahu diri, pandai berterima kasih, sekalipun mereka harus membayar bunga 0,9% per bulan, sebuah angka yang sebenarnya tidak terlalu kecil. Tetapi karena dana pinjaman itu berputar cepat dalam roda UKM (usaha menengah kecil) yang bunganya bisa diangsur saban hari, maka terasa meringankan. Kata Musthofa, sekarang sudah mencapai angka ribuan pengusaha UKM di Kabupaten Kudus yang merasa terbantu oleh KUP ini. Ada empat kategori besarnya pinjaman: Rp 5 juta, Rp. 10 juta, Rp. 15 juta, dan yang tertinggi Rp. 20 juta. Pengakuan Musthofa tentang KUP ini mengapa bisa berjalan baik karena dana ada, bupati punya kekuasaan, ada fasiltas bank yang mendanai dan memantau pelaksaan program ini di lapangan. Masing-masing debitor diberi kartu pinjaman untuk memudahkan mereka berurusan dengan bank dengan jangka waktu tiga tahun.

Saya tidak tahu mengapa Bupati Musthofa mendatangi saya yang tak faham masalah ekonomi ini. Kunjungan yang baru saja adalah yang kedua kali, dan saya pun sudah pula   diundang ke Kudus tahun 2014 menghadiri tabligh akbar di malam hari yang didatangi oleh ribuan pengunjung. Ketika kunjungan pertama ke rumah, saya memang menantang bupati: percuma bicara macam-macam jenis pembangunan jika angka kemiskinan tidak berkurang. Kata Musthofa, tantangan inilah yang memaksanya putar otak yang kemudian membuahkan KUP itu. Tentu saja saya gembira mendengar pengakuan bupati untuk seseorang yang sebenarnya buta tentang ABC pembangunan.

Untuk selanjutnya mari kita pantau bersama apakah nanti program KUP ini akan mengikuti jejak Muhammad Yunus yang fenomenal itu sehingga mengangkat nama Yunus sebagai pemenang Hadiah Nobel tahun 2006. Masa tiga tahun lagi jabatan Musthofa akan menjadi taruhan bahwa KUP-nya itu memang bisa dijadikan contoh untuk tingkat nasional. Jika ini berjaya, maka mimpi panjang untuk menghalau kemiskinan akan menjadi kenyataan. Negeri ini hanya bisa diselamatkan oleh para petarung sejati. Petarung yang telah selesai dengan dirinya. Semoga rahim nusantara akan melahirkan para pemimpin tipe petarung ini!

AGENDA KEGIATAN SANTRI BARU RAMADHAN 1436 H/2015 M

 

NO

TANGGAL

KEGIATAN

KETERANGAN

1.

16 – 18 Juni 2015

Regristasi dan Masuk ke Pondok

Santri wajib berada di Pondok

2.

19 Juni 2015

Orientasi KBM Ramadhan

Ba’da Ashar

3.

20 Juni

s/d

7 Juli

2015

KBM Ramadhan :

  1. Matrikulasi Al-Qur’an
  2. Tahsin al-Qur’an
  3. Doa dan Adab Yaumiyyah
  4. Praktek Ibadah
  5. Pendasaran Bahasa Arab dan Inggris
  6. Pendasaran Matematika
  7. Stadium General Kemuhammadiyahan
  8. Habituasi Asrama
  9. Wisata Kampung / Napak Tilas KHA Dahlan
  10. Bedah Film Perjuangan Muhammadiyah
  11. Lomba-lomba

Santri wajib berada di Pondok

4.

7 Juli 2015

Penutupan Kegiatan Ramadhan

Santri boleh meninggalkan Pondok mulai pukul 13.00

5.

8 Juli

s/d

7 Agustus

2015

Libur Ramadhan dan Idul Fitri

Jum’at, 7 Juli 2015 pukul 17.00 adalah waktu dan hari terakhir santri masuk & kembali ke Pondok

6.

8 Agustus 2015

Awal KBM Pasca Libur Ramadhan dan idul Fitri

Semua santri wajib sudah berada di Pondok

 

Kesederhanaan AR. Fachrudin, Pelajaran besar bagi Kader Muhammadiyah

”Yang paling ujung Nak Podo. Sebelahnya Nak Toni. Keduanya dari Madiun. Di sampingnya Nak Agus dari Tulungagung. Terus Nak Rizal dan Nak Tono dari Pekalongan. Nak Syaifuddin dari Cirebon. Nak Didit dari Bogor. Nak Udin dari Karawang. Dan yang paling ujung Nak Fauzi, putra saya, yang sudah kepingin kawin,” jelas pak AR yang tak lupa menyelipi ”humor” memperkenalkan kami –anak-anak kos-  kepada tamunya seusai salat. Kemudian, ia pun memperkenalkan tamu-tamunya kepada kami. Dan kultum -kuliah tujuh menit- pun dimulai.

Baca selanjutnya

Antara Santri Prihatin dan Santri Hedonis: Sebuah Renungan

Santri dalam kamus bahasa Indonesia berarti orang yang mendalami agama Islam, orang yang shaleh. Dalam pandangan masyarakat santri adalah seorang atau sekelompok orang yang belajar di pondok pesantren, baik modern maupun tradisional. Sedangkan kata hedonis sendiri berarti pengikut paham hedonism, yaitu paham yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Baca selanjutnya

Jelek-jelek Begini, Saya Ketua SKM.

Turun dari mobil, Lelaki itu tersenyum haru. Matahari masih bertengger di ufuk timur. Cuaca cerah. Tampak barisan rapi antrian santri sekedar bersalaman. Ustadz-ustadz sejak pukul 06.00 tegak berdiri di depan madrasah. Para santri mulai ramai memasuki ruang kelas.


Lelaki itu menatap ke sekeliling. Pandangannya tidak fokus. Apa yang dilihatnya: masjid, ruang kelas, santri, dan ustadz-ustadz, seperti menjadi pintu lorong waktu yang mampu memutar jarum jam ke arah masa lalu.

Baca selanjutnya

Subcategories

Additional information